Pages

Blog Khusus Sanitarian Community

Blog ini berisi beberapa hal penting terkait standard operating prosedur sanitarian, seperti inspeksi sanitasi, tutorial kesehatan lingkungan, dan tips lainnya. Anda dapat klik langsung pada link diatas slider ini, atau anda dapat berkunjung di inspeksisanitasi.blogspot.com

Public Health Community

Blog ini berisi berbagai hal terkait tutorial, tips, dan informasi kesehatan masyarakat. Beberapa hal ditulis meliputi epidemiologi, kesehatan lingkungan, masalah gizi masyarakat, serta pencegahan penyakit menular. Berbagai tulisan ini dapat anda akses pada link diatas, atau anda dapat berkunjung langsung di helpingpeoleideaas.com/publichealth.

Blog Tutorial Diets Sehat

Blog ini berisi tips terbaru cara menurunkan berat badan yang sehat. berbagai tips dan tutorial antara lain melalui pengaturan makanan, exercise, vegetarian, dan cara lainnya. Anda dapat berkunjung ke web khusus cara diet ini dengan klik pada lingk di atas atau di loseweight-diets.com.

Feature Blog

Merupakan catatan abyektif terkait masalah dan berita terkini yang layak dijadikan acuan untuk menambah obyektifitas kita.

Check List dan SOP

Anda bisa mendapatkan berbagai check list dan sop inspeksi sanitasi dan pengukuran lainnya dengan standard Depkes dan WHO, anda dapat klik di link diatas slider ini.

Showing posts with label Kesehatan Masyarakat. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan Masyarakat. Show all posts

Thursday, November 20, 2014

Pencegahan Hepatitis B dengan Imunisasi


Cara Efektif Mencegah Penyakit Hepatitis B Pada Anak Kita

Cara mencegah hepatitis B paling efektif dilakukan dengan imunisasi. Vaksin hepatitis B dapat diberikan secara aman kepada bayi-bayi tidak lama sesudah kelahiran dan selama masa pertumbuhan.

Terdapat beberapa strategi dasar dan utama utama untuk mencegah infeksi Virus Hepatitis B. Pada negara maju, strategi efektif dapat dilakukan dengan mengubah perilaku seksual dan meningkatkan skrining darah. Sedangkan pada negara berkembang seperti Indonesia, dimana bayi yang baru lahir dan anak- anak yang dalam masa pertumbuhan memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi, cara paling efektif dilakukan dengan imunoprofilaksis, baik aktif maupun pasif.

Imunoprofilaksis pasif, dilakukan dengan Imunoglobulin hepatitis B (HBIG), yang merupakan larutan steril yang mengandung antibodi yang dapat melawan  hepatitis B. HBIG ini diambil dari darah donor yang telah mempunyai antibodi terhadap hepatitis B dan digunakan sebagai imunoprofilaksis pasif. Imunoprofilaksis pasif ini digunakan dalam 4 keadaan, yaitu ketika bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B; setelah terpapar jarum suntik; setelah berhubungan seksual; dan setelah transplantasi hepar. Imunoprofilaksis diwajibkan pada bayi yang terlahir dari ibu yang positif HBsAg.

Imunisasi aktif: Pencegahan infeksi primer dengan vaksin merupakan strategi utama dalam menurunkan resiko Virus Hepatitis B kronis dan komplikasinya. Sejarah perkembangan Vaksin Hepatitis B dimulai ketika ditemukan vaksin generasi pertama pada tahun 1982. Kemudian vaksin generasi kedua, vaksin HB dengan rekombinan DNA, pada tahun 1986. Kedua vaksin telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah terjadinya infeksi hepatitis B. Tahun 1991, WHO mencanangkan bahwa imunisasi hepatitis B harus termasuk dalam sistem imunisasi nasional pada negara-negara dengan tingkat pembawa HB-nya 8% atau lebih sampai tahun 1995, dan pada tahun 1997 untuk semua negara.

Vaksin Hepatitis B
Sejak tahun 1982, vaksin hepatitis B merupakan   vaksin pertama untuk melawan kanker pada manusia. Vaksin ini diperoleh dari plasma maupun melalui teknologi rekombinasi DNA dan telah terbukti aman dan efektif. Sampai saat ini telah lebih dari 1 triliun vaksin digunakan. Tidak terdapat efek samping yang serius setelah pemberian imunisasi ini. Efek samping yang sering terjadi berupa rasa nyeri ditempat suntikan dan demam ringan yang dapat hilang dalam 1-2 hari.

Jika diberikan secara benar maka imunisasi ini  dapat melindungi 95% orang sehat dari penyakit hepatitis akut begitu juga dengan penyakit kronisnya seperti sirosis dan kanker hepar. Imunisasi diberikan dalam tiga dosis secara intramuskular. Dosis pertama dan kedua diberikan pada bulan pertama kelahiran dan dosis ketiga diberikan 1-12 bulan setelah dosis kedua. Vaksin hepatitis B ini dapat diberikan bersama dengan vaksin penyakit lain seperti campak, dipteri-tetanus¬pertusis, polio, BCG, dan demam kuning. Tingkat perlindungan yang diberikan oleh vaksin tergantung pada umur. Bayi baru lahir, anak-anak, dan remaja mempunyai perlindungan yang tinggi setelah pemberian imunisasi sedangkan orang dewasa dan pasien dengan imunodefisiensi mempunyai tingkat perlindungan yang rendah.

Pemberian Imunisasi Hepatitis B dilakukan secara periodik. Berdasarkan hal ini maka Departemen Kesehatan RI menetapkan tujuan khusus program imunisasi hepatitis B, antara lain memberikan imunisasi hepatitis B 3 dosis kepada minimal 80% bayi berumur 0-11 bulan, dimana pemberian dosis pertama dari vaksin kepada bayi sedini mungkin sebelum berumur 7  hari. Dengan detail jadwal yaitu:
- Pada umur 2 bulan dengan jenis antigen BCG,Polio 1,DPT 1.
- Pada umur 3 bulan dengan jenis antigen HB 1,Polio 2,DPT 2.
- Pada umur 4 bulan jenis antigen HB 2,Polio 3,DPT 3.
- Sedangkan pada umur 9 bulan, jenis antigen yang diberikan adalah HB Polio 4 dan Campak

Refference, antara lain Petunjuk Teknis Pelaksanaan Imunisasi  Hepatitis B, edisi 4. Depkes.RI. 1997.

Wednesday, October 22, 2014

Aspek dukungan sosial

Pengertian, Aspek, dan Fungsi Dukungan Sosial

Menurut Sarafino (1994) terdapat beberapa aspek yang terlibat didalam pemberian dukungan sosial,  antara lain :
  1. Aspek emosional. Aspek ini melibatkan kelekatan, jaminan dan keinginan untuk percaya pada orang lain, sehingga seseorang menjadi yakin bahwa orang lain tersebut mampu memberikan cinta dan kasih sayang.
  2. Aspek instrumental. Aspek ini meliputi penyediaan sarana untuk mempermudah menolong orang lain, meliputi peralatan, perlengkapan, dan sarana pendukung yang lain termasuk didalamnya memberikan peluang waktu.
  3. Aspek informatif. Meliputi pemberian informasi untuk mengatasi masalah pribadi. Terdiri atas pemberian nasehat, pengarahan dan keterangan lain yang dibutuhkan.
  4. Aspek penilaian. Aspek ini terdiri atas dukungan peran sosial yang meliputi umpan balik, pertandingan sosial dan afirmasi (persetujuan).

Fungsi dukungan sosial
Menurut Weiss cit Ruwaida (2006), terdapat enam fungsi sosial ditinjau dari fungsi sosial yang diperoleh individu melalui hubungannya dengan orang lain sebagai berikut:
  1. Kelekatan, yaitu perasaan kedekatan emosi dan timbulnya rasa aman.
  2. Integrasi sosial, yaitu perasaan memiliki sekelompok orang yang dapat berbagi tentang hal-hal yang umum dan aktivitas rekreasional.
  3. Penghargaan, yaitu pengakuan terhadap kemampuan dan keterampilan seseorang.
  4. Ikatan yang dapat dipercaya, jaminan bahwa seseorang dapat mengandalkan orang lain untuk mendapatkan bantuan dalam berbagai keadaan. Biasanya bantuan ini diperoleh dari anggota keluarga, misalnya suami.
  5. Bimbingan, berisi nasihat dan informasi yang biasanya diperoleh dari guru atau figur orang tua.
  6. Kesempatan untuk mengasuh, yaitu perasaan ikut bertanggungjawab atas kesejahteraan orang lain.

Sedangkan fungsi dukungan sosial menurut Wills cit Ruwaida (2006), yaitu :
  1. Esteem Support. Di dalam kehidupannya, individu menghadapi berbagai tantangan yang mengancam harga dirinya sehingga timbul keraguan individu tentang kapasitas kemampuan yang dimilikinya. Sumber interpersonal yang mampu mengatasi ancaman terhadap harga diri ini adalah memiliki seseorang atau beberapa orang tempat bercerita mengenai suatu permasalahan. Unsur penting dari sumber dukungan sosial tersebut adalah rasa diterima dan dihargai oleh orang lain. Orang mendapat penerimaan dan persetujuan dari significant others, evaluasi diri dan harga diri individu akan meningkat.
  2. Informational Support. Jika permasalahan dapat dengan cepat diselesaikan, maka kemungkinan individu akan mulai mencari informasi tentang sifat masalah dan bimbingan tentang langkah¬langkah yang harus dilakukan. Dukungan informasi yang berupa pengetahuan baru, nasihat atau bimbingan. Membantu individu ketika melakukan pembatasan masalah sehingga ia memperoleh jalan keluar yang efektif untuk mengatasi permasalahannya tersebut.
  3. Instrumental Support. Instrumental support dapat mencakup berbagai aktifitas seperti dapat membantu pekerjaan rumah tangga, bantuan keuangan atau memberikan barang yang dibutuhkan.
  4. Motivasional Support. Jaringan sosial dapat memberikan dukungan yang berupa semangat kepada seseorang untuk berusaha menemukan solusi atas permasalahannya, meyakinkan bahwa individu tersebut akan sukses dan meyakinkan bahwa permasalahan tersebut akan dapat teratasi bersama.

Referensi:
  1. Ruwaida, A. 2006. Hubungan Antara Kepercayaan Diri dan Dukungan Keluarga dengan Kesiapan Menghadapi Masa Menopause. Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, vol. 8, No.2, Nopember 2006
  2. Sarafino, E.P. 1994. Health Psychology. Biopsychosocial Interactions. New York: John Willey & Sons, Inc.

Epidemiologi dan Resiko Tuberkulosis

Faktor Penyebab dan Resiko Tuberkulosis


Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP). Terdapat dua jenis bakteri ini, yaitu Mycobacterium tuberkulosis, Mycobacterium bovis dan Mycobacterium arifacum. Penularan M. tuberkulosis terjadi melalui udara yang mengandung basil TB dalam percikan ludah yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring pada waktu mereka batuk, bersin atau pada waktu bernyanyi.

Tuberkulosis, terutama TB paru, merupakan masalah yang timbul tidak hanya di negara berkembang, tetapi juga di negara maju. Tuberkulosis tetap merupakan salah satu penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Sedangkan tingkat kematian tertinggi akibat tuberkulosis terjadi pada anak di bawah umur 4 tahun.


Peningkatan jumlah kasus TB di berbagai tempat pada saat ini, diduga disebabkan oleh berbagai hal, yaitu diagnosis yang tidak tepat;  pengobatan yang tidak adekuat;  program penanggulangan tidak dilaksanakan dengan tepat;  infeksi endemik human immuno¬deficiency virus (HIV); migrasi penduduk;  mengobati sendiri (self treatment);  meningkatnya kemiskinan;  pelayanan kesehatan yang kurang memadai.

Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Tuberkulosis

Faktor risiko terjadinya TB antara lain adalah anak yang terpajan dengan orang dewasa dengan TB aktif (kontak TB positif), daerah endemis, kemiskinan, lingkungan yang tidak sehat (higiene dan sanitasi tidak baik), dan tempat penampungan umum (panti asuhan, penjara, atau panti perawatan lain), yang banyak terdapat pasien TB dewasa aktif. Risiko untuk menjadi sakit paling tinggi pada usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak.

Faktor risiko infeksi TB pada anak yang terpenting adalah pajanan terhadap orang dewasa yang infeksius dan tidak ada hubungan dengan faktor keturunan atau faktor lainnya pada pejamu. Berarti, bayi dari seorang ibu dengan BTA sputum positif memiliki risiko tinggi terinfeksi TB. Semakin dekat bayi tersebut dengan ibunya, makin besar pula kemungkinan bayi tersebut terpajan percik renik (droplet nuclei) yang infeksius.

Pasien TB anak jarang menularkan kuman pada anak lain atau orang dewasa di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena kuman TB sangat jarang ditemukan dalam sekret endobrokial, dan jarang terdapat batuk.

Walaupun TBC menempati rangking terendah diantara penyakit menular berdasarkan lama waktu pajanan, namun pajanan dalam jangka waktu lama dalam lingkungan keluarga menyebabkan risiko terinfeksi sebesar 30%. Jika infeksi terjadi pada anak maka risiko menjadi sakit selama hidupnya sekitar 10%.


Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.

Anak yang telah terinfeksi kuman TB, tidak selalu akan mengalami sakit TB. Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat menyebabkan progresi infeksi TB menjadi sakit TB. Faktor risiko yang pertama adalah usia. Faktor risiko yang lain adalah konversi tes tuberkulin dalam 1-2 tahun terakhir, malnutrisi, keadaan imunokompromais (misalnya pada infeksi HIV, keganasan, transplantasi organ, pengobatan imunosupresi), diabetes melitus, gagal ginjal kronik, dan silikosis.

Faktor yang tidak kalah penting pada epidemiologi TB adalah status sosioekonomi yang rendah, penghasilan yang kurang, kepadatan hunian, pengangguran, pendidikan yang rendah dan kurangnya dana untuk pelayanan masyarakat.

Gejala Penyakit TBC

Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik.

Gejala umum
  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  •  Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus
  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3 bulan � 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah.

Tuesday, October 21, 2014

Fasilitator Desa Siaga

Peran dan Fungsi Fasilitator Desa Siaga

Desa siaga merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa siaga adalah suatu konsep peran serta dan pemberdayaan masyarakat di tingkat desa, disertai dengan pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat untuk memelihara kesehatannya secara mandiri.

Dalam pelaksanaan kegiatan desa siaga, masyarakat difasilitasi oleh 1 orang fasilitator desa siaga. Proses fasilitasi mengandung pengertian membantu dan menguatkan masyarakat agar dapat dan mampu mengembangkan diri untuk melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Fungsi Fasilitator desa siaga antara lain :
  1. Sebagai narasumber: Seorang Fasilitator desa siaga harus mampu menyediakan dan siap dengan informasi-informasi termasuk pendukungnya yang berkaitan dengan pelaksanaan dan tahapan-tahapan dalam program Desa siaga. Seorang Fasilitator desa siaga harus mampu menjawab, memberikan ulasan, gambaran analisis maupun memberikan saran atau nasihat yang kongkrit dan realistis agar dapat diterapkan.
  2. Sebagai guru: Seorang Fasilitator desa siaga harus mampu menyampaikan materi yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi dan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat serta mudah diterapkan tahap demi tahap.
  3. Sebagai mediator: a)    Mediasi potensi : Seorang Fasilitator desa siaga diharapkan dapat membantu masyarakat memediasi/mengakses potensi-potensi yang dapat mendukung pengembangan dirinya, misalnya sektor swasta, perguruan tinggi, LSM dan sebagainya. b)    Mediasi berbagai kepentingan: Seorang Fasilitator desa siaga diharapkan juga dapat berperan sebagai orang yang dapat menengahi apabila di antara kelompok atau individu di masyarakat terjadi perbedaan kepentingan. 
  4. Sebagai perangsang atau penantang (challenger): Seorang Fasilitator desa siaga harus mampu merangsang dan mendorong masyarakat untuk menemukan dan mengenali potensi dan kapasitasnya sendiri, sehingga masyarakat dapat melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan secara mandiri.

Refferrence, antara lain : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 564/MENKES/SK/VI II/2006, tentang Pedoman Pelaksanaan Pengembangan Desa siaga

Sunday, October 19, 2014

Jenis dan Penggolongan Vaksin

Jenis Vaksin Berdasarkan Penggolongannya dan berdasarkan sensitivitas Pada Suhu

Vaksin pertama diuat pada tahun 1877 oleh Louis Pasteur dengan menggunakan kuman hidup yang telah dilemahkan. Vaksin ini terutama digunakan untuk vaksinasi cowpok dan smallpox. Pada tahun 1881 kemudian dibuat vaksin anthrax, sedangkan vaksin rabies dibuat pada tahun 1885. Pada dasarnya ini vaksin merupakan produk biologis yang dibuat dari kuman maupun komponen kuman seperti bakteri, virus atau riketsia. 

Sebagaimana kita ketahui penggunaan vaksin banyak dilakukan pada Program Pemberantasan Penyakit Menular. Hal ini disebabkan penyakit menular masih menjadi bagian dari masalah kesehatan utama di Indonesia. Kondisi ini masih ditambah dengan pertimbangan, adanya  beberapa penyakit menular yang juga merupakan masalah global.

Pelayanan imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit menular yang terbukti paling efektif dan berdampak pada peningkatan kesehatan masyarakat. Melalui imunisasi penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974. Mulai tahun 1977 imunisasi diperluas menjadi Program Pengembangan Imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), yaitu Tuberculosis, Difteri, Pertusis, Polio, Campak, Tetanus dan Hepatitis B (Depkes RI, 1999).

Berikut informasi terkait dengan penggolongan vaksin dan imunisasi yang pentig diketahui rekan-rekan praktisi public health.

Penggolongan Vaksin dibedakan berdasarkan asal antigen  dan berdasarkan sensitivitas terhadap suhu. Penggolongan berdasarkan asal antigen (Immunization Essential. Berdasarkan asal antigen, vaksin dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :

Live attenuated, berasal dari bakteri atau virus hidup yang dilemahkan). Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan cara pembiakan berulang-ulang. Vaksin hidup attenuated bersifat labil dan mudah mengalami kerusakan bila kena panas dan sinar, oleh karenanya vaksin golongan ini harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati-hati. Vaksin hidup attenuated yang tersedia di pasaran terbagi dua macam, yaitu yang berasal dari virus hidup seperti vaksin campak, rubella, polio, rotavirus, dan demam kuning. Sementara jenis lain berasal dari bakteri sepertti vaksin BCG dan demam tifoid oral.

Inactivated, berasal dari bakteri, virus atau komponennya, dibuat tidak aktif). Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakan bakteri atau virus dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak aktif dengan penambahan bahan kimia (biasanya formalin). Vaksin inactivated yang tersedia saat ini berasal dari seluruh sel virus yang inactivated, contoh influenza, polio, rabies, hepatitis A. Juga dari seluruh bakteri yang inactivated, contoh pertusis, tifoid, kolera, toksoid seperti difteria, tetanus. Berasal dari Polisakarida murni, seperti pneomukokus, meningokokus, serta berasal dari gabungan polisakarida.

Antigen vaksin dapat pula dihasilkan dengan cara teknik rekayasa genetik. Produk ini sering disebut sebagai vaksin rekombinan. Contoh vaksin dari rekayasa genetik yang saat ini telah tersedia antara lain vaksin Hepatitis B dan vaksin tifoid.

Penggolongan berdasarkan sensitivitas terhadap suhu menurut WHO (2002), antara lain :
  1. Vaksin yang peka terhadap suhu dingin dibawah 0o C yaitu vaksin FS (Freeze Sensitive = Sensitif Beku). Vaksin yang tergolong FS adalah: Hepatitis B (dalam kemasan vial atau kemasan Pre fill Injection Device), DPT, DPT-HB, DT, TT.
  2. Vaksin yang peka terhadap suhu panas berlebih ( > 34oC ), yaitu vaksin HS (Heat Sensitive = Sensitif Panas), seperti: BCG, Polio, Campak

Thursday, August 14, 2014

Protap Penanganan Difteri

Prosedur Penanganan Penderita dan Penanganan Wabah Difteri

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya infeksi difteri pada orang dewasa antara lain menurunnya imunitas tubuh. Penurunan imunitas tersebut disebabkan banyak faktor, antara lain karena imunitas hanya didapat waktu bayi, imunisasi tidak lengkap, juga menurunnya tingkat sosial ekonomi masyarakat.

Difteri merupakan suatu penyakit infeksi yang mendadak yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diphtheriae. Yang diserang traktus respiratorius bagian atas dengan tanda khas terbentuknya pseudomembran dan dilepaskannya eksotoksin.

Terdapat beberapa standar penanganan difteri, baik pada penderita, kontak dan lingkungan sekitar, antara lain sebagai berikut :
  1. Setiap ada kasus diduga difteri harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan setempat. Alur pelaporan kasus difteri dari sarana pelayanan kesehatan adalah dari puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berupa laporan W1 yang harus dilaporkan dalam jangka waktu 1 x 24 jam baik berupa lisan maupun tulisan, serta harus dilaporkan dalam laporan mingguan (W2). Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan ke Dinas Kesehatan Propinsi dan selanjutnya ke Kementerian Kesehatan. Kecepatan dalam melaporkan kasus sangat menentukan kecepatan dan ketepatan dalam penanganan kasus.
  2. Dilakukan Isolasi: Isolasi ketat dilakukan terhadap penderita difteri faringeal. Isolasi untuk difteri kulit dilakukan terhadap kontak hingga 2 kultur dari sampel tenggorokan dan hidung (dan sampel dari lesi kulit pada difteri kulit hasilnya negatif tidak ditemukan baksil. Jarak 2 kultur ini harus dibuat tidak kurang dari 24 jam dan tidak kurang dari 24 jam setelah penghentian pemberian antibiotika. Jika kultur tidak mungkin dilakukan maka tindakan isolasi dapat diakhiri 14 hari setelah pemberian antibiotika yang tepat.
  3. Dilakukan desinfeksi serentak: Dilakukan terhadap semua barang yang dipakai oleh/untuk penderita dan terhadap barang yang tercemar dengan discharge penderita.
  4. Dilakukan tindakan karantina: Karantina dilakukan pada saat terjadi KLB terhadap orang dewasa yang dinyatakan karier dan pekerjaannya berhubungan dengan mengolah makanan (khususnya susu) atau terhadap mereka yang dekat dengan anak-anak yang belum diimunisasi. Mareka harus diistirahatkan sementara dari pekerjaannya sampai mereka selesai diobati dengan antibiotika yang dianjurkan dan pemeriksaan bakteriologis menyatakan bahwa mereka bukan karier.
  5. Melakukan manajemen Kontak: Semua kontak dengan penderita harus dilakukan kultur sampel hidung dan tenggorokan dan harus diawasi selama 7 hari. Selama pengawasan kepada semua orang yang tinggal serumah dengan penderita difteri tanpa melihat status imunisasi mereka,    diberikan Profilaksis dosis tunggal Benzathine Penicillin atau Erythromycin selama 7-10 hari. Khusus untuk kontak yang menangani makanan atau menangani anak-anak sekolah harus dibebaskan untuk sementara dari pekerjaan tersebut hingga hasil pemeriksaan bakteriologis menyatakan mereka bukan karier.
  6. Untuk meningkatkan imunitas kontak,  jika kontak pernah mendapat imunisasi dasar lengkap dan jarak booster sudah lebih dari lima tahun, maka pada saat ada kasus difteri harus dibooster, sedangkan bagi kontak yang belum pernah diimunisasi, untuk meningkatkan kekebalan, pemberian imunisasi pada kontak harus dipilah berdasar usia apakah dengan vaksinasi: Td, DT, DPT, DtaP atau DPT-Hib
  7. Dilakukan penyelidikan epidemiologi : setiap ada 1 kasus difteri baik di rumah sakit, puskesmas maupun masyarakat harus dilakukan penyelidikan epidemiologi yang bertujuan untuk menegakan diagnosis, memastikan terjadi KLB dan menemukan kasus tambahan serta kelompok rentan
  8. Melakukan pengobatan spesifik: Jika diduga kuat bahwa seseorang menderita difteri didasarkan kepada gejala klinis maka antibodi ADS 40.000 unit IM atau IV harus diberikan setelah sampel untuk pemeriksaan bakteriologis diambil tanpa harus menunggu hasil pemeriksaan bakteriologis tersebut. Penanganan pasien tersangka difteri harus diberi penisilin prokain dengan dosis 50.000 unit/kgBB secara IM setiap hari selama 7 hari.
Sedangkan prosedur penanggulangan wabah, antara lain dilakukan dengan :
  1. Program imunisasi yang sudah dilakukan pada saat ini harus lebih ditingkatkan seluas mungkin terhadap kelompok yang mempunyai risiko terkena difteri karena telah terbukti memberikan perlindungan bagi bayi dan anak-anak prasekolah. Jika wabah terjadi pada orang dewasa, imunisasi dilakukan terhadap orang yang paling berisiko terkena difteri. Imunisasi diulang sebulan kemudian untuk memperoleh sekurang-kurangnya 2 dosis.
  2. Penyelidikan epidemiologi untuk mengidentifikasi mereka yang kontak dengan penderita dan mencari orang-orang yang berisiko. Di lokasi yang terkena wabah dan fasilitasnya memadai, lakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus yang dilaporkan untuk menetapkan diagnosis dari kasus-kasus tersebut dan mengetahui biotipe dan toksisitas dari Corynebacterium diphtheriae.

Refference, antara lain :
  • Prosedur kerja surveilans faktor risiko penyakit menular dalam intensifikasi pemberantasan penya kit menular terpadu berbasis wilayah, khusus faktor risiko lingkungan dan perilaku penya kit ISPA, Malaria, TBC, Campak, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan Hepatitis B, Dirjen PPM&PL, Depkes  RI. 2004.
  • Chin, J,(2000) Control of communicable diseases manual , American Public Health Association, Washington.
  • Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit, pedoman bagi rumah sakit rujukan tingkat pertama di Kabupaten/Kota, WHO Indonesia, 2009,  Depkes RI

Monday, November 11, 2013

Surveilans Kematian Maternal

Surveilans Epidemiologi Kematian Ibu

Diantara beberapa tujuan dan indikator Millenium Development Goals (MDGs), penurunan angka kematian ibu di Indonesia masih sangat lambat bergerak. Berdasarkan data, angka kematian ibu melahirkan tidak mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Berdasarkan target 102 kematian per 100.000 kelahiran pada tahun 2015, angka kematian ibu saat ini masih pada angka 228 jiwa tiap 100.000 kelahiran, sama seperti tahun 2007. Menurut data yang dikeluarkan Unicef saat ini diperkirakan masih terdapat sekitar  150.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahun sebelum mereka mencapai ulang tahun kelima, dan hampir 10.000 wanita meninggal setiap tahun karena masalah kehamilan dan persalinan.

Kematian ibu adalah kematian seorang wanita yang terjadi pada saat hamil atau dalam 42 hari setelah persalinan, tanpa memperhitungkan lama dan tempat terjadinya kehamilan yang diakibatkan berbagai sebab yang berhubungan atau diperberat oleh kehamilannya atau penatalaksanaannya, tetapi bukan oleh kecelakaan. Sedangkan pengukuran kematian ibu dinyatakan dalam tiga bentuk ukuran, yaitu Maternal mortality ratio (MMR), Maternal mortality rate, serta Lifetime risk.

Untuk melakukan penyelidikan secara epidemiologis, dilakukan kegiatan surveilans kematian ibu. Surveilans epidemiologi kematian ibu didefinisikan sebagai suatu komponen sistem informasi kesehatan yang memungkinkan dilakukan identifikasi, pencatatan, penghitungan dan penentuan penyebab dan pencegahan kematian ibu pada periode waktu dan lokasi tertentu dengan tujuan yang berorientasi pada pengukuran yang penting untuk pencegahan. Setiap surveilans bertujuan untuk mengidentifikasi, yaitu menyelidiki semua kematian yang disebabkan oleh kehamilan, komplikasi dan manajemennya. Dengan pengidentifikasian dan penyelidikan setiap kematian ibu maka tingkat resiko dan penyebab masalah yang ada bisa dipahami dengan cukup baik untuk mengevaluasi dan mengembangkan intervensi.

Salah satu tujuan utama surveilans kematian ibu adalah untuk mengambil tindakan berdasarkan hasil analisa data. Hasil ini akan membantu menentukan permasalahan, menentukan ruang lingkup masalah, mengidentifikasi faktor medis dan non medis yang berhubungan dengan penyebab, dan menentukan intervensi yang penting untuk pengendalian masalah dan untuk mencegah kejadian berulang di masa mendatang. Tujuan lainnya adalah untuk membantu dan memandu para pengambil kebijakan di berbagai tingkat untuk mengawasi, merencanakan, mengevaluasi program-program kesehatan ibu yang ada dan mengalokasikan sumber daya serta sebagai alat advokasi.

Menurut International Classification of Disease, bahwa jenis kematian ibu dikelompokkan menjadi dua bentuk klasifikasi, yaitu : :
  1. Direct obstetric deaths (kematian obstetrik langsung): kematian yang terjadi karena komplikasi obstetrik pada saat kehamilan, persalinan dan nifas; tindakan-tindakan, kesalahan-kesalahan, penanganan yang tidak benar, atau sebagai akibat rangkaian kejadian tersebut di atas.
  2. Indirect obstetric deaths (kematian obstetric tidak langsung) : kematian yang terjadi karena penyakit yang sudah ada sebelumnya atau penyakit yang timbul selama kehamilan dan tidak disebabkan oleh penyebab obstetric langsung, tetapi diperparah oleh pengaruh fisiologis kehamilan.
Faktor Penyebab Kematian Ibu
Secara umum penyebab kematian ibu dapat digolongkan kedalam penyebab langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung berkaitan dengan kondisi saat melahirkan seperti pendarahan, hipertensi atau tekanan darah tinggi saat kehamilan (eklampsia), infeksi, partus lama, dan komplikasi keguguran. Penyebab langsung tersebut diperburuk oleh status kesehatan dan gizi ibu yang kurang baik. Sedangkan penyebab tidak langsung antara lain adalah rendahnya taraf pendidikan perempuan, kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi, rendahnya status sosial ekonomi, kedudukan dan peran ibu yang tidak menguntungkan dalam keluarga, kuatnya tradisi dan budaya lokal dalam menyikapi proses persalinan, serta kurangnya ketersediaan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.

Salah satu model analisa faktor-faktor yang menentukan penyebab terjadinya kematian ibu dikembangkan oleh Mc. Carthy dan Maine (1992). Beberapa faktor terkait antara lain a) Faktor penentu tidak langsung (distant factor) yaitu sosial ekonomi dan budaya b) Faktor perantara (intermediate factor) yang terdiri dari status kesehatan, status reproduksi, akses terhadap pelayanan kesehatan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. c) Faktor outcome, antara lainfaktor kehamilan, komplikasi dan kematian.

Refferece, antara lain :
  • Paxton, A.,et al. 2003. Using The UN Process Indicators of Emergency Obstetric Services.
  • Graham W.J. et al. .2008. Measuring progress in reducing maternal mortality. Best Practice & Research Clinical Obstetrics and Gynaecology.
  • Berg, C., Danel, I. & Mora, G. (1998) Guidelines for Maternal Mortality Epidemiological Surveillance

Tuesday, April 16, 2013

Teori Evaluasi

Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Menurut Supriyanto (1998) tujuan pelaksanaan evaluasi suatu program antara lain :
  1. Sebagai alat untuk memperbaiki kebijaksanaan dan perencanaan program yang akan datang. Hasil evaluasi memberikan pengalaman mengenai hambatan atau pelaksanaan program, yang kemudian dapat dipergunakan untuk memperbaiki kebijaksanaan dan pelaksanaan program yang akan datang.
  2. Sebagai alat untuk memperbaiki alokasi sumber dana, daya dan manajemen (resources) saat ini serta di masa mendatang. Tanpa adanya evaluasi akan terjadi pemborosan penggunaan sumber dana dan daya yang sebenarnya dapat diadakan penghematan serta penggunaan untuk program-program lain,
  3. Memperbaiki pelaksanaan dan perencanaan kembali suatu program. Sehubungan dengan ini diperlukan adanya kegiatan dilakukan, antara lain mengecek kembali relevansi program dalam perubahan-perubahan kecil yang terus menerus, mengukur kemajuan terhadap target yang direncanakan, menentukan sebab dan faktor di dalam maupun di luar yang mempengaruhi pelaksanaan program.
Sementara menurut WHO (1990), secara umum evaluasi dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu:
  1. Evaluasi formatif (formative evaluation), evaluasi pada tahap pengembangan program. Jadi sebelum program dimulai, evaluasi normatif ini menghasilkan informasi yang akan digunakan untuk mengembangkan program agar program menjadi lebih sesuai dengan kondisi sasaran. Tujuan utamanya adalah untuk menyakinkan bahwa rencana yang akan disusun benar-benar telah sesuai dengan masalah.
  2. Evaluasi proses (process evaluation), suatu evaluasi yang memberikan gambaran tentang apa yang sedang berlangsung dalam suatu program dan memastikan adanya dan keterjangkauan elemen-elemen fisik dan struktural dari program. Evaluasi proses ini menilai apakah elemen-elemen spesifik seperti fasilitas, staf, tempat atau pelayanan sedang dikembangkan atau diberikan sesuai dengan rencana. Prosesnya mencakup pencatatan dan menggambarkan kegiatan-kegiatan program tertentu yaitu tentang apa, seberapa banyak, untuk siapa, kapan, di mana, dan oleh siapa. Evaluasi proses juga mencakup monitoring frekuensi partisipasi, target, sasaran dan digunakan untuk memastikan frekuensi luasnya implementasi program atau elemen-elemen program tertentu.
  3. Evaluasi akhir (summative evaluation), evaluasi yang dilakukan untuk melihat hasil keseluruhan dari suatu program yang telah selesai dilaksanakan. Evaluasi ini dilakukan pada akhir kegiatan program, guna menilai keberhasilan/efektifitas program. Hasil evaluasi dapat memberikan jawaban atas pertanyaan: apakah tujuan program tercapai atau tidak dan alasan-alasan mengapa demikian. Hal ini memungkinkan pengambilan keputusan, merencanakan dan mengalokasikan sumber daya (resources).
Fungsi evaluasi
Evaluasi dapat mempunyai dua fungsi yaitu; fungsi formatif, evaluasi dapat dipakai untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan yang sedang berjalan (program, orang, produk, dan sebagainya). Fungsi sumatif, evaluasi dipakai untuk mempertanggungjawabkan, keterangan, seleksi atau lanjutan. Jadi evaluasi hendaknya membantu pengembangan implementasi, kebutuhan suatu program, perbaikan program, pertanggungjawaban, seleksi, motivasi, menambah pengetahuan dan dukungan dari mereka yang terlibat.

Indikator evaluasi
Definisi indikator menurut WHO (2002) merupakan cara menghitung atau mengukur besarnya kemajuan, pada tahap tertentu yang merupakan usaha untuk mencapai suatu sasaran program, apakah indikator tersebut merupakan indikator input, proses, output atau outcome. Indikator hanya sekedar menunjukkan indikasi secara sederhana dari besarnya perubahan atau arah dari perubahan berdasarkan waktu. Indikator tidak menunjukkan kepada manajer program mengapa terjadi perubahan atau tidak terjadi perubahan.

Selanjutnya WHO (2002) menyatakan bahwa suatu indikator yang baik untuk melakukan monitoring dan evaluasi program yang membutuhkan kesesuaian terhadap program, memungkinkan untuk diukur dan dianalisis, mudah untuk diinterpretasi serta dapat diukur perubahannya berdasarkan waktu.

Referensi : WHO. 2002. Enviromental Health in Emergencies and Disasters dan Supriyanto, S. 1998. Evaluasi Bidang Kesehatan

Sunday, March 10, 2013

Manajemen Pelayanan Kesehatan

Pengertian, Komponen dan Jenis Pelayanan Kesehatan

Pengertian Manajemen, menurut Wijono (1997), secara umum, merupakan ilmu yang bersifat obyektif dan sistematis yang berdasarkan fakta-fakta atau kebenaran yang universal. Manajemen berhubungan dengan sesuatu hal (entisitas) yang bukan manusia dan entisitas manusia. Menurut Manullang (2004) yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu yang diselenggarakan dan diawasi dengan fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha individu untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Ratminto (2005), manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu atau lebih individu untuk mengorganisasikan berbagai aktifitas lain untuk mencapai tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan menggunakan kegiatan orang lain, untuk mencapai hasil-hasil yang tidak bisa dicapai apabila satu individu berpindah sendiri

Manajemen kesehatan mencakup fungsi-fungsi manajemen seperti perencanaan kesehatan, pengorganisasian, pengaturan staf, penggerakan pelaksanaan dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan, penganggaran kesehatan (buggetting), pengendalian pengawasan dan penilaian pembangunan kesehatan (Wijono, 1997).
  1. Manajemen adalah ilmu terapan yang dapat dimanfaatkan di dalam berbagai jenis organisasi untuk membantu manajer memecahkan masalah organisasi. Atas dasar pemikiran tersebut, manajemen juga dapat diterapkan di bidang kesehatan untuk membantu manajer organisasi kesehatan memecahkan masalah kesehatan masyarakat. Sistem kesehatan adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, atau mencapai suatu keadaan sehat bagi individu atau kelompok-kelompok masyarakat,
  2. Manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam system pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek atau sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat,
  3. Sistem adalah suatu kesatuan yang utuh, terpadu yang terdiri dari berbagai elemen (sub sistem) yang saling berhubungan di dalam suatu proses atau struktur dalam upaya menghasilkan sesuatu atau mencapai suatu tujuan tertentu. Oleh sebab itu, kalau berbicara system pelayanan kesehatan adalah struktur atau gabungan dari sub system di dalam suatu unit atau di dalam suatu proses untuk mengupayakan pelayanan kesehatan masyarakat baik preventif, kuratif, promotif maupun rehabilitatif. Sehingga sitem pelayanan kesehatan ini dapat berbentuk puskesmas, rumah sakit, balai kesehatan masyarakat dan unit-unit atau organisasi-organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan. Dengan demikian, maka manajemen kesehatan masyarakat adalah proses manajemen di tiap¬tiap sub system pelayanan (Wijono, 1997).
Pengertian Pelayanan kesehatan, merupakan suatu aktifitas atau serangkaian aktifitas yang bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara kosumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksud.

Jenis pelayanan kesehatan.
Menurut Muninjaya (2004) jenis pelayanan kesehatan adalah merupakan sub sistem pelayanan kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk pencegahan atau preventif dan peningkatan kesehatan atau promotif, pelayanan pengobatan atau kuratif dan pemulihan kesehatan atau rehabilitatif dengan sasaran masyarakat.

Menurut WHO (1999), terdapat beberapa jenis pelayanan kesehatan antara lain :
  1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan ini merupakan jenis pelayanan yang primary health care dimana pelayanan ini sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat dan mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory/out patient services) dan posyandu merupakan bagian pelayanan kesehatan ini,
  2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua. Ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan rakyat banyak, maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan mempunyai porsi yang besar, namun demikian karena keterbatasan sumberdaya pemerintahan, maka potensi masyarakat perlu digali atau diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut .

Departemen Kesehatan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam menggali dan membina potensi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat ini. Menggalang potensi masyarakat di sini mencakup 3 dimensi, yakni:
  1. Potensi masyarakat dalam arti komunitas misalnya masyarakat rumah tangga, rukun warga dan kelurahan. Misal: iuran dana sehat untuk pengadaan pemberian makanan tambahan balita, kader kesehatan,
  2. Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan-pelayanan kesehatan masyarakat pada hakikatnya merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam system pelayanan kesehatan masyarakat,
  3. Mengalang potensi masyarakat melalui pihak swasta yang ikut membantu meringankan beban penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam sitem pelayanan masyarakat

System pelayanan kesehatan masyarakat dalam kegiatan pelaksanaan merupakan gabungan dari elemen-elemen (sub-sistem) suatu proses struktur, berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Antara satu sub sistem dengan sub sistem lain berterkaitan. Secara garis besar elemen-elemen dalam sistem itu adalah:
  1. Masukan input sub¬elemen yang diperlukan sebagai masukan untuk berfungsinya suatu system,
  2. Proses process adalah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga menghasilkan suatu keluaran yang direncanakan,
  3. Keluaran output adalah sesuatu yang dihasilkan oleh proses (Robbins, 1994).

Pustaka : Muninjaya, A., A., G. 2004. Manajemen Kesehatan, EGC, Jakarta; Ratminto & Septi., A., W. .2005. Manajemen Pelayanan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Wednesday, February 13, 2013

Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat

Teori dan Tahap Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan

Belajar dari berbagai pendekatan pembangunan terdahulu, sebagian pendapat menyatakan bahwa keengganan atau kealpaan pemerintah pusat untuk memberikan ruang partisipasi lebih luas kepada rakyat sebagai end user kebijakan publik ternyata telah menyebabkan matinya inovasi dan kreasi rakyat untuk memahami kebutuhannya sendiri serta cara merealisasikannya melalui proses pembangunan. Konsep pemberdayaan (empowerment), sebagai konsep alternatif pembangunan pada intinya menekankan pada otonomi pengambilan keputusan dari suatu kelompok masyarakat, yang berlandas pada sumber daya pribadi, langsung (melalui partisipasi), demokratis dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung (Wrihatnolo  dan Dwidjowijoto, 2007) .

Dalam bidang kesehatan, pemberdayaan sudah menjadi isue penting sejak Ottawa Charter 1986, yang selanjutnya berkembang sebagai respon birokrasi terhadap kemajuan pergerakan sosial. Banyak promotor kesehatan yang fokus kepada pemberdayaan masyarakat, memaknai pemberdayaan masyarakat sebagai suatu kondisi ketika masyarakat memiliki kontrol terhadap berbagai keputusan yang mempengaruhi kesehatan dan hidupnya. Secara spesifik, pemberdayaan masyarakat didefinisikan sebagai perubahan ke arah persamaan hak dalam kehidupan sosial terkait dengan sumber daya, otoritas, legitimasi atau pengaruh (Laverack and Labonte, 2000).

Beberapa definisi pemberdayaan masyarakat menurut beberapa ahli, antara lain sebagai berikut :
  1. Kartasasmita (1997)    : Upaya meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat kita yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.
  2. WHO : Proses individu memperoleh kontrol yang besar terhadap keputusan dan aksi yang mempengaruhi kesehatannya.Prijono dan Pranarka (1996)    : Aksi emansipasi dan liberalisasi manusia serta penataan terhadap segala kekuasaan dan penguasa.
  3. Blanchard (2002 ): Membangkitkan dan memusatkan daya masyarakat,    karena masyarakat pada dasarnya sudah memiliki daya melalui pengetahuan dan motivasi yang mereka miliki.
  4. Sutoro (2002) : Pembangunan yang dibuat secara demokratis, desentralistik dan partisipatoris, dengan masyarakat menempati posisi utama yang memulai, mengelola dan menikmati pembangunan.
  5. Sadan (2004) : Mengelola individu untukmemperoleh kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya, baik dengan kemampuan sendiri maupun dengan bantuan orang lain.
  6. Sunartiningsih (2004) :Upaya membantu masyarakat dalam mengembangkan kemampuan sendiri sehingga bebas dan mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan secara mandiri.
  7. Kriger (2007) : Memobilisasi inisiatif masyarakat.
  8. Bartle (2007) : Peningkatan kekuatan dan pengembangan kapasitas untuk mencapai tujuan. Pemberdayaan masyarakat bukan membuat segala sesuatunya mudah bagi masyarakat, tetapi mengajak masyarakat untuk berjuang dan melawan agar menjadi kuat
  9. Civic Forum London (2008)    : Membantu individu dalam masyarakat untuk mendapatkan kepercayaan diri, keterampilan dan kemampuan untuk mempengaruhi kondisi lingkungannya secara langsung atau melalui lembaga masyarakat
  10. Ife dan Tesoriero (2008) : Pemberdayaan betujuan meningkatkan keberdayaan dari mereka yang dirugikan (the disadvantaged)
Menurut Sunartiningsih (2004), tujuan pemberdayaan masyarakat adalah mendorong terciptanya kekuatan dan kemampuan lembaga masyarakat untuk secara mandiri mampu mengelola dirinya sendiri berdasarkan kebutuhan masyarakat itu sendiri, serta mampu mengatasi tantangan persoalan di masa yang akan datang. WHO menjelaskan, pemberdayaan masyarakat bertujuan memobil isasi individu dan kelompok yang lemah dengan memperkuat keterampilan hidup dasar dan meningkatkan pengaruhnya terhadap kondisi sosial dan ekonomi.

Kartasasmita (1997) menjelaskan, pemberdayaan masyarakat merupakan upaya yang dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan yang bersifat siklus dan berakhir apabila masyarakat sudah mandiri. Tahapan atau fase pemberdayaan masyarakat menurut Adi (2003) terdiri dari 5 tahapan, yaitu persiapan, pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Sulistiyani (2004), menjelaskan tahapan pemberdayaan masyarakat meliputi 1) tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli; 2) tahap transformasi kemampuan, pengetahuan, kecakapan dan keterampilan sehingga dapat berperan; 3) tahap peningkatan kemampuan intelektual, sehingga terbentuk inisiatif dan kemampuan inovatif menuju mandiri. Terdapat pendapat lain, yaitu peningkatan kesadaran kritis masyarakat, pengorganisasian masyarakat dan perencanaan partisipatif.
Pemberdayaan adalah sebuah “proses menjadi” bukan sebuah “proses instant”. Sebagai proses, pemberdayaan mempunyai 3 tahapan, yaitu : penyadaran, peningkatan kapasitas dan pemberian daya (Wrihatnolo dan Dwidjowijoto, 2007).

Tahap Pertama
Pada tahap pertama, masyarakat diberi pengetahuan yang bersifat kognitif, belief, healing. Prinsip dasarnya adalah membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membangun “demand”) diberdayakan, dan proses pemberdayaan tersebut dimulai dari dalam diri mereka (bukan dari orang luar).

Tahap kedua
Tahap kedua adalah peningkatan kapasitas, sering disebut dengan istilah capacity building atau enabling. Ada 3 jenis capacity building, yaitu manusia, organisasi dan sistem nilai. Peningkatan kapasitas manusia dalam arti memampukan manusia, baik dalam konteks individu maupun kelompok, dapat dilakukan dengan pelatihan, lokakarya, seminar, sosialisasi, diseminasi informasi dan sejenisnya. Peni ngkatan kapasitas organisasi dilakukan dengan merestrukturisasi organisasi yang ada atau membentuk organisasi baru yang spesifik dengan kegiatan. Peningkatan kapasitas ketiga adalah sistem nilai atau “aturan main” yang dapat dilakukan dengan membantu masyarakat membuat “aturan main”atau kesepakatan diantara mereka send iri.

Tahap ke tiga
Tahap ketiga adalah pemberian daya itu sendiri atau empowerment. Pada tahap ini masyarakat diberi daya, kekuasaan, otoritas atau peluang. Masyarakat diberi kewenangan dalam mengidentifikasi masalah dan strategi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Masyarakat juga diberi ukuran-ukuran yang dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat pada tahap ketiga ini muncul dalam bentuk perencanaan partisipatif. Perencanaan partisipatif merupakan penentuan tujuan dan penyusunan kegiatan untuk mencapai tujuan yang dilakukan oleh masyarakat .

Teori Evaluasi Program Kesehatan

Aspek dalam Pelaksanaan Evaluasi Pengelolaan Program Kesehatan

Evaluasi atau kegiatan penilaian adalah merupakan bagian integral dari fungsi manajemen dan didasarkan pada sistem informasi manajemen. Evaluasi dilaksanakan karena adanya dorongan atau keinginan untuk mengukur pencapaian hasil kerja atau kegiatan penyelenggaraan program terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Menurut WHO (2003), Monitoring dan evaluasi memungkinkan pengelola program menilai keefektifan inisiatif pengendalian dan harus dilakukan secara terus menerus. Tujuan khusus evaluasi program adalah mengukur pencapain dan kemajuan program, mendeteksi dan memecahkan masalah, menilai keefektifan dan efesiensi program, mengarahkan alokasi sumber daya program dan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk merivisi kebijakan.

Sebagai salah satu bentuk evaluasi program harus dilihat dari faktor-faktor input, proses dan output dimana ketiganya saling berkaitan. Dengan demikian faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program yaitu:
  • Input, meliputi sumber tenaga, biaya penyelenggaraan pelayanan, kebijakan dan pedoman pelaksanaan kegiatan serta bahan/alat untuk pengumpulan dan pengolahan data.
  • Proses, meliputi perencanaan program dalam tahun, bulan yang mencakup penentuan target/sasaran, anggaran dan penanggung jawab kegiatan, penggerakan pelaksanaan program dan pengawasan atau penilaian program.
  • Output, cakupan atau hasil-hasil dari suatu kegiatan program.
Pendekatan analisis sistem yang digunakan Donabedian, bahwa ketiga dimensi itu berhubungan secara linear dan positif. Input yang baik memungkinkan proses baik, proses yang baik memungkinkan output yang baik, dan output yang baik akan membawa dampak terhadap outcome yang baik. Dengan cara lain input yang baik menjadi dasar bagi kegiatan yang bermutu, proses yang baik menjadi dasar bagi output yang bermutu, dengan mutu output menjadi dasar bagi dampak yang diharapkan pada sasaran.

Program dapat dievaluasi dengan berbagai cara, di antaranya melakukan observasi terhadap program secara terus-menerus dalam upaya melakukan interprestasi terhadap informasi yang didapat dan sangat berguna bagi umpan balik program serta relevansi dan efisiensi program. Pada prinsipnya evaluasi program akan memberikan dampak yang lebih baik bagi kelangsungan program sesuai prinsip manajemen yaitu:

  1. Perencanaan: Perencanaan merupakan salah satu fungsi fundamental dari manajemen yang sangat menentukan, karena didalamnya termuat apa yang ingin dicapai oleh suatu organisasi serta langkah-langkah apa yang akan perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ada empat tahap kegiatan perencanaan yaitu: menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan, merumuskan keadaan saat ini, mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, mengembangkan rencana untuk mencapai tujuan.
  2. Pengorganisasian: Pengorganisasian merupakan suatu proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi dan tersedianya sumber daya seperti tenaga, keuangan, prasarana dan sarana dalam organisasi.
  3. Pelaksanaan: Manajemen adalah pelaksanaan atau penggerakan (actuating) yang dilakukan setelah organisasi memiliki perencanaan dan melakukan pengorganisasian dengan memiliki struktur organisasi termasuk tersedianya personil sebagai pelaksana sesuai dengan kebutuhan unit atau satuan kerja.
  4. Pengarahan dan bimbingan: Pengarahan dan bimbingan adalah kegiatan menciptakan, memelihara, menjaga atau mempertahankan dan memajukan organisasi melalui setiap personil, baik secara struktural maupun fungsional agar langkah-langkah operasionalnya tidak keluar dari usaha mencapai tujuan organisasi.
  5. Pembinaan atau supervisi: Pembinaan adalah suatu upaya pengarahan dengan memberikan petunjuk serta saran, setelah menemukan alasan dan keluhan pelaksanaan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi. Pembinaan dan supervisi mempunyai tujuan untuk memotivasi petugas dan mengendalikan susuatu kegiatan agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Tuesday, February 12, 2013

Manajemen Kesehatan

Pengertian dan Aspek Manajemen Kesehatan

Manajement adalah suatu proses, yang terdiri dari kegiatan pengaturan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoorganisasian dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

Menurut Hanafi (2003), manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisir, mengarahkan dan mengendalikan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dengan menggunakan sumber daya organisasi. Kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian disebut sebagai proses manajemen. Sumber daya atau input diperoleh dari lingkungan dan dapat dikelompokkan menjadi input sumber daya manusia, fisik, keuangan dan informasi. Manajemen menginginkan tujuan tercapai dengan efektif dan efisien. Efisien adalah kemampuan menggunakan sumberdaya dengan benar sedangkan efektif akan lebih jelas kalau dikaitkan dengan konsep perbandingan output-input. Output merupakan hasil atau keluaran suatu organisasi dan input merupakan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan output. Efektivitas banyak berkaitan dengan pencapaian tujuan, semakin dekat organisasi ke tujuannya semakin efektif organisasi tersebut.

Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen yang baik akan memudahakan terwujudnya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat. Unsur-unsur manajemen terdiri dari: man, money, method, machines, materials dan market. Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Fungsi-fungsi manajemen yaitu Planning, Organizing, Actuating dan Controlling. Pengertian fungsi-fungsi yang dilaksanakan dalam proses manajemen sebagai berikut:

Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana dan oleh siapa. Perencanaan adalah proses dasar dimana manajemen memutuskan tujuan dan cara mencapainya. Perencanaan dalam organisasi adalah esensial, dalam kenyataannya perencanaan memegang peranan lebih dibanding fungsi-fungsi manajemen lainnya. Fungsi-fungsi pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sebenarnya hanya melaksanakan keputusan-keputusan perencanaan. Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi di waktu yang akan datang dalam perencanaan dan kegiatan yang diputuskan akan dilaksanakan, serta periode sekarang pada saat rencana dibuat.

Perencanaan adalah suatu proses yang tidak berakhir bila rencana tersebut telah ditetapkan, rencana harus diimplementasikan. Setiap saat selama poses implementasi dan pengawasan, rencana-rencana mungkin memerlukan modifikasi agar tetap berguna. Perencaan kembali dapat menjadi faktor kunci pencapaian sukses akhir. Perencanaan harus mempertimbangkan kebutuhan fleksibilitas, agar mampu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi baru secepat mungkin.

Salah satu aspek penting perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk memecahkan suatu masalah tertentu. Keputusan-keputusan harus dibuat pada berbagai tahap dalam proses perencanaan.

Pengorganisasian (Organizing)
menjelaskan pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, mengelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien. Pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya.

Pengertian pengorganisasian dapat digunakan untuk menunjukkan hal-hal berikut:
  1. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya-sumber daya keuangan, fisik, bahan baku dan tenaga kerja organisasi.
  2. Bagaimana organisasi mengelompokkan kegiatan-kegiatannya, dimana setiap pengelompokkan diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok.
  3. Hubungan-hubungan antara fungsi-fungsi, jabatan-jabatan, tugas¬tugas dan para karyawan.
  4. Cara para manajer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.
Pengarahan (Actuating), Bagian yang termasuk dalam manajemen pengarahan.

Secara klasik manajemen adalah ilmu atau seni tentang bagaimana menggunakan sumber daya secara efesien, efektif dan rasional untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Manajemen mengandung tiga prinsip pokok yang menjadi ciri utama penerapannya yaitu efesiensi dalam pemanfaatan sumber daya, efektif dalam memilih alternatif kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi dan rasional dalam pengambilan keputusan manajerial (Muninjaya, 2004).

Menurut Thoha (1999) sarana merupakan salah satu unsur masukan, disamping tenaga dan dana. Bila sarana yang ada tidak sesuai dengan standar yang telah ditetapkan maka sulitlah pelayanan mencapai mutu yang diharapkan. Dedikasi, kemampuan kerja, ketrampilan dan niat yang besar untuk mewujudkan prestasi besar tidak akan besar manfaatnya tanpa didukung oleh sarana dan pra sarana yang dibutuhkan. Agar supaya roda organisasi berjalan lancar maka persyaratan minimal ketersediaan sarana dan prasarana tetap harus dipenuhi.

Sedangkan menurut Azwar (1996), manajemen kesehatan fungsi administrasi dibagi dalam empat macam yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan fungsi penilaian. Manajemen yang efektif menuntut agar semua orang bertanggung jawab terhadap pekerjaan orang lain, pada semua tingkat dan dalam setiap jenis unit organisasi yang memandang dirinya sebagai menejer. Manajemen yang terorganisir menggunakan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan menerapkannya dengan mempertimbangkan realitas yang ada untuk mencapai hasil praktis yang diinginkan (Azwar, 1996).

Friday, February 1, 2013

Sejarah Kesehatan Masyarakat

Aspek Histori Kesehatan Masyarakat
Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas dari dua tokoh metologi Yunani yaitu Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita Mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik. (Sejarah Kesehatan Masyarakat (Notoatmodjo, 2003)
Hegeia, seorang asistenya yang juga istrinya juga telah melakukan upaya kesehatan. Bedanya antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan/penanganan masalah kesehatan adalah ;
Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit), setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang.
Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”, seperti mengindari makanan/minuman yang beracun, makan makanan yang bergizi (baik) cukup istirahat dan melakukan olahraga. Apabila orang sudah jatuh sakit Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, anatara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, daripada dengan pengobatan/pembedahan.public_health_nurses

Dari cerita dua tokoh di atas, berkembanglah 2 aliran/pendekatan dalam menangani masalah kesehatan. Kelompok pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif/pengobatan. Kelompok ini pada umumnya terdiri terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan fisik, mental maupun sosial. Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadi penyakit. Ke dalam kelompok ini termasuk para petugas kesehatan masyarakat lulusan-lulusan sekolah/institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang.
Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah terjadi dikotomi antara kelompok kedua profesi, yaitu pelayanan kesehatan kuratif (curative health care), dan pelayanan pencegahan/preventif (preventive health care). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan :
Pendekatan kuratif. Pendekatan ini dilakukan terhadap sasaran secara individual, dengan sifat pendekatan sebagai berikut :
  1. Cenderung bersifat reaktif (menunggu masalah datang, misal dokter menunggu pasien datang di Puskesmas/tempat praktek).
  2. Melihat dan menangani klien/pasien lebih kepada sistem biologis manusia/pasien hanya dilihat secara parsial (padahal manusia terdiri dari bio-psiko-sosial yang terlihat antara aspek satu dengan lainnya.
  3. Pendekatan preventif, dengan sasaran/pasien adalah masyarakat (bukan perorangan).
  4. Menggunakan pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu masalah datang, tetapi mencari masalah. Petugas turun di lapangan/masyarakat mencari dan mengidentifikasi masalah dan melakukan tindakan.
  5. Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan holistik. Terjadiya penyakit tidak semata karena terganggunya sistem biologis tapi aspek bio-psiko-sosial.

Fungsi Manajemen Kesehatan

Konsep dasar dalam manajemen kesehatan
Secara umum manajemen merupakan suatu kegiatan untuk mengatur orang lain guna mencapai suatu tujuan atau menyelesaikan pekerjaan. Hal ini berdasarkan beberapa pendapat ahli berikut :
  1. Manajemen adalah suatu proses yang dilakukan oleh satu orang /lebih untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan orang lain guna mencapai hasil (tujuan) yang tidak dapat dicapai oleh hanya satu orang saja. (Evancevich)
  2. Manajemen adalah proses dimana pelaksanaan dari suatu tujuan diselenggarakan dan diawasi (Encyclopaedia of sosial sciences)
  3. Manajemen membuat tujuan tercapai melalui kegiatan-kegiatan orang lain dan fungsi-fungsinya dapat dipecahkan sekurang-kurangnya 2 tanggung jawab utama (perencanaan dan pengawasan)
  4. Manajemen adalah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan orang lain (Robert D. Terry).
manajemen kesehatan Dalam bidang kesehatan masyarakat - Manajemen kesehatan adalah suatu kegiatan atau suatu seni untuk mengatur para petugas kesehatan dan nonpetugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan.” Dengan kata lain manajemen kesehatan masyarakat adalah penerapan manajemen umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat sehingga yang menjadi objek dan sasaran manajemen adalah sistem pelayanan kesehatan masyarakat. (Notoatmodjo, 2003)
Sedangkan Fungsi manajemen, menurut beberapa ahli mengandung berbagai komponen sebagai berikut :
  1. Menurut L. Gullick manajemen mengandung beberapa unsur antara lain Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgetting
  2. Menurut George Terry - Planning, Organizing, Actuating, Controlling
  3. Menurut Koonzt O’ Donnel - Planning, Organizing, Staffing, Directing, Controlling
  4. Menurut H. Fayol - Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling

Berbagai komponen fungsi manajemen diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Planning (perencanaan) adalah sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menetapkan alternative kegiatan untuk pencapaiannya.
  2. Organizing (pengorganisasian) adalah rangkaian kegiatan menajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi.
  3. Actuating (directing, commanding, motivating, staffing, coordinating) atau fungsi penggerakan pelaksanaan adalah proses bimbingan kepada staff agar mereka mampu bekerja secara optimal menjalankan tugas-tugas pokoknya sesuai dengan ketrampilan yang telah dimiliki, dan dukungan sumber daya yang tersedia.
  4. Controlling (monitoring) atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan.

Aplikasi Manajemen Bidang Kesehatan
Banyak pengertian sehat disampaikan para ahli, WHO, maupun menurut Undang-Undang, antara lain disebutkan bahwa sehat adalah suatu keadaan yang optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan tidak hanya terbatas pada keadaan bebas dari penyakit atau kelemahan saja.
Sesuai dengan tujuan sistem kesehatan tersebut, administrasi (manajemen) kesehatan tidak dapat disamakan dengan administrasi niaga (business adminstration) yang lebih banyak berorientasi pada upaya untuk mencari keuntungan finansial (profit oriented). Administrasi kesehatan lebih tepat digolongkan ke dalam administrasi umum/publik (public administration) oleh karena organisasi kesehatan lebih mementingkan pencapaian kesejahteraan masyarakat umum. Manajemen kesehatan harus dikembangkan di tiap-tiap organisasi kesehatan di Indonesia.

Tuesday, January 15, 2013

Teori dan Pengertian Sikap


Sikap Manusia dan Faktor yang Mempengaruhinya

Sikap dan perilaku, merupakan dua sisi mata uang, berbeda namun seiring. Sikap (attitude) masih bersifat abstrak dan belum dapat diukur. Manifestasi sikap dapat dilihat dari adanya perilaku, sehingga dapat dinyatakan, bahwa tahap pertama proses sebelum berbentuk perilaku, berupa munculnya sikap. Berikut beberapa tulisan dan pendapat terkait pengertian sikap ini.
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan mendukung maupun perasaan tidak mendukung pada suatu objek. Sikap masih bersifat tertutup, tidak dapat dilihat langsung dan belum terwujud. Sikap merupakan reaksi yang masih tertutup, tidak dapat dilihat langsung.

Sikap adalah pernyataan evaluatif positif atau negatif tentang objek, orang ataupun peristiwa. Sikap terdiri atas tiga komponen yaitu komponen kognitif yang berisi persepsi, pendapat atau ide kepercayaan terhadap seseorang atau objek,  kemudian komponen afektif yaitu emosi atau perasaan, serta tahap berikutnya berupa kecenderungan untuk bertindak.
Harus Sikap ?
Sikap hanya dapat ditafsirkan pada perilaku yang nampak. Sikap dapat diterjemahkan dengan sikap terhadap objek tertentu diikuti dengan kecenderungan untuk melakukan tindakan sesuai dengan objek. mengatakan bahwa sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan menimbulkan pengaruh langsung terhadap perilaku berikutnya. Pengaruh langsung tersebut lebih berupa predisposisi perilaku yang akan direalisasikan apabila kondisi dan situasi memungkinkan.  Sikap itu terdiri dari tiga komponen pokok yaitu :
  1. Kepercayaan atau keyakinan, ide dan konsep terhadap objek, artinya bagaimana keyakinan dan pendapat atau pemikiran seseorang terhadap objek.
  2. Kehidupan emosional atau evaluasi orang terhadap objek, artinya bagaimana penilaian (terkandung di dalam faktor emosi) orang tersebut terhadap objek.
  3. Kecenderungan untuk bertindak, artinya sikap merupakan komponen yang mendahului tindakan atau perilaku terbuka. Sikap adalah ancang-ancang untuk bertindak atau berperilaku terbuka.

Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Dalam kaitan ini, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Sikap sosial terbentuk oleh adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Pada tahap ini terjadi hubungan yang saling mempengaruhi antara individu yang satu dengan individu yang lain. Dalam interaksi ini individu membentuk pola sikap tertentu terhadap objek psikologis yang dihadapinya.

Pengalaman pribadi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap, selain faktor kebudayaan orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan dan lembaga agama serta faktor emosi dari diri individu. Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi jenis kelamin, umur, pendidikan dan pengalaman. Faktor eksternal meliputi media massa, institusi pendidikan, institusi agama dan masyarakat.

Sikap belum tentu terwujud dalam bentuk tindakan, sebab untuk mewujudkan tindakan perlu faktor lain, yaitu adanya fasilitas atau sarana dan prasarana sebagai mediator agar sikap dapat meningkat menjadi tindakan. Berdasarkan Theory of Reasond Action, sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang diteliti dan beralasan dan dampaknya terbatas pada tiga hal, yaitu bahwa perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap spesifik terhadap sesuatu. Kemudian perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh sikap spesifik tetapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan seseorang terhadap yang inginkan orang lain agar ia berprilaku. Selanjutnya bahwa sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subjektif membentuk suatu intensi atau niat untuk berperilaku tertentu.

Pendapat lain mengemukakan, bahwa sikap terdiri terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu tingkatan menerima (receiving), artinya bahwa orang atau subjek mau memperhatikan stimulus atau objek yang diberikan. Selanjutnya tingkat merespon (responding) artinya bahwa orang akan memberi jawaban bila ditanya atau mengerjakan/menyelesaikan tugas yang diberikan. Tingkatan menghargai (valuing) artinya bahwa orang mau mengajak orang lain untuk mendiskusikan atau mengerjakan sesuatu hal. Sedangkan tingkatan terakhir adalah bertanggung jawab (responsible) sebagai tingkatan sikap yang paling tinggi dimana orang bertanggung jawab atas suatu hal yang sudah dipilihnya dengan segala risiko.

Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek. Sikap merupakan semacam kesiapa untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan yang dimaksudkan merupakan kecenderungan potensi untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respon.

Proses pembentukan sikap berlangsung secara bertahap, kemampuan untuk bersikap diperoleh melalui proses belajar. Perubahan sikap bisa berupa penambahan, pengalihan atau modifikasi dari satu atau lebih dari ketiga komponen sikap dengan kemungkinan satu atau dua komponen sikap berubah tetapi komponen yang lain tetap. Praktek atau tindakan suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas.
Reference :
  • Notoatmodjo, S . 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, (edisi revisi), Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
  • Azwar,  S., 2005, Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya, edisi kedua,  Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Thursday, January 10, 2013

Jabatan Nutrisionis Terampil dan Nutrisionis Ahli

Angka Kredit Nutrisionis Terampil dan Nutrisionis Ahli

Pengertian Nutrisionis sesuai Keputusan MENPAN Nomor 32/Kep/M.PAN/4/2001 tanggal 4 April 2001 pasal 5 merupakan Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik baik di masyarakat maupun rumah sakit.

Jabatan Nutrisionis dibagi menjadi dua klasifikasi jabatan, yaitu jabatan Nutrisionis Terampil dan Nutrisionis Ahli, masing-masing dengan kriteria sebagai berikut :

Nutrisionis Trampil
Merupakan Jabatan fungsional nutrisionis ketrampilan yang pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan dengan prinsip, konsep dan metode operasional kegiatan di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik.

Pada dasarnya tugas pokok dan fungsi Nutrisionis Terampil antara lain mengumpulkan data, mengolah data secara tabulasi atau tabulasi silang, melakukan persiapan, melaksanakan kegiatan, serta membuat laporan. Nutrisionis Terampil, terdiri dari :

  • Nutrisionis Pelaksana dengan pangkat dan golongan ruang II/c  atau II/d 
  • Nutrisionis  Pelaksana Lanjutam dengan pangkat dan golongan ruang IIIa atau III/b 
  • Nutrisionis Penyelia dengan pangkat dan golongan ruang III c atau /III/d 

Nutrisionis Ahli 
Jabatan fungsional nutrisionis keahlian yang pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan, penerapan konsep, teori, ilmu dan seni  untuk mengelola kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik serta pemberian pengajaran dengan cara sistematis dan tepat guna di bidang pelayanan gizi, makanan dan dietetik .

Tugas pokok dan fungsi nutrisionis ahli, antara lain menganalisa data secara deskriptif dan atau analitik, menyusun rancangan, menyusun proposal, menyusun standar, mengevaluasi hasil kegiatan, serta membuat laporan. Sedangkan jenis jabatan Nutrisionis Ahli terdiri dari :

  • Nutrisionis  Pertama dengan pangkat dan golongan ruang III/a, III/b 
  • Nutrisionis  Muda dengan pangkat dan golongan ruang III/c, III/d 
  • Nutrisionis  Madya dengan pangkat dan golongan ruang IV/a, IV/b, IV/c

Beberapa unsur yang dinilai dalam penilaian angka kredit nutrisionis, meliputi unsur utama dan unsur penunjang. Pada unsur utama mempunyai porsi 80% dari keseluruhan nilai unsur penilaian, terdiri dari unsur pendidikan, pelayanan gizi, makanan dan dietetik dan unsur pengembangan profesi. Sedangkan unsur penunjang  merupakan kegiatan yang mendukung  pelaksanaan pelaksanaan kegiatan pelayanan gizi, makanan, dan dietetik. Unsur penunjang ini  sekurang-kurangnya mempunyai porsi 20% dari keseluruhan bobot penilaian.

Berdasarkan dua unsur penilaian diatas, dalam prakteknya jumlah angka kredit kumulatif yang harus dipenuhi, mengikuti ketentuan berikut ini :

  1. Dari golongan dan ruang IV /b ke IV /c  wajib mengumpulkan 12 angka kredit  dari pengembangan profesi. 
  2. Nutrisionis yang telah mempunyai angka kredit melebihi persyaratan minimal kenaikan pangkat, diperhitungkan untuk kenaikan pangkat pada periode berikutnya. 
  3. Untuk Nutrisionis Penyelia golongan dan runag pangkat III d, setiap tahun diwajibkan mengumpulkan angka kredit minimal 10, yang berasal dari unsur utama 
  4. Untuk Nutrisionis Madya (IV c), setiap tahun diwajibkan menumpulkan minimal 20 angka kredit yang berasal dari kegiatan unsur utama
  5. Untuk Nutrisionis yang secara bersama-sama membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang gizi, makanan, dan dietetik, ketentuan  dan pembagian angka kreditnya masing-masing 60 % bagi penulis utama, dan 40 % bagi penulis pembantu 
  6. Ketentuan jumlah penulis pembantu sebanyak-banyaknya terdiri dari 3 orang

Pejabat yang berwenang menetapkan Angka Kredit Nutrisionis

  1. Pada tingkat provinsi, wewenang tersebut terletak pada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi bagi Nutrisionis Pelaksana sampai Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama sampai Nutrisionis Muda yang bekerja pada institusi pelayanan gizi, makanan dan dietetik  di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi.  
  2. Pada tingkat kabupaten atau Kota, wewenang ada pada Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota bagi Nutrisionis Pelaksana sampai Nutrisionis Penyelia dan Nutrisionis Pertama serta Nutrisionis Muda yangg bekerja pada instansi pelayanan gizi, makanan dan dietetik di lingkungan Pemda Kab/Kota.

Syarat pengangkatan dalam jabatan.
Beberapa ketentuan yang dipersyaratkan untuk terpenuhinya pengangkatan dalam jabatan fungsional Nutrisionis, antara lain , bagi PNS yang diangkat untuk pertama kali dalam jabatan Nutrisionis Trampil :
1. Berijazah serendah-rendahnya D III Gizi
2. Pangkat serendah-rendahnya Pengatur Gol IIc.
3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik 1 terakhir. dalam tahun

Sedangkan bagi PNS yangg diangkat untuk pertama kali dalam jabatan Nutrisionis Ahli harus memenuhi persyaratan berikut :
1. Berijazah serendah-rendahnya Sarjana (S1)/D IV Gizi
2. Pangkat serendah-rendahnya Penata Muda Gol IIIa.
3. Setiap unsur penilaian prestasi kerja sekurang-kurangnya bernilai baik dalam 2 tahun terakhir.

Pada kondisi tertentu, misalnya dibutuhkan penambahan seorang Nutrisionis tambahan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan profesionalisme pegawai negeri sipil, masih dimungkinkan pengangkatan nutrisionis dari jabatan lain. Ketentuan ini dimungkinkan dan dapat dipertimbangkan dengan beberapa ketentuan berikut:
1. Memenuhi syarat seperti tersebut diatas
2. Memiliki pengalaman dalam pelayanan gizi, makanan dietetik sekurang-kurangnya 2 tahun.
3. Usia setinggi-tingginya 5 tahun sebelum mencapai usia pensiun dari jabatan terakhir yang diduduki.

Usul penetapan angka kredit nutrisionis
Pengertian Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan / atau akumulasi nilai butir – butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Nutrisionis dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya. Usul penetapan angka kredit nutrisionis, sesuai peraturan Menpan diatas, berketentuan sebagai berikut :

  • Usul penetapan angka kredit nutrisionis disampaikan, setelah menurut perhitungan  Nutrisionis  yang bersangkutan, jumlah angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat/jabatan setingkat lebih tinggi, telah dapat dipenuhi. 
  • Usul penetapan ini dibuat menurut contoh formulir dalam lampiran keputusan Menpan ini, yaitu  untuk Nutrisionis Terampil sebagaimana lampiran I, sedangkan untuk Nutrisionis Ahli sebagaimana dalam lampiran II

Usul penetapan angka kredit Nutrisionis tersebut harus dilengkapi dan dilampiri dengan beberapa jenis dokumen berikut :

  1. Surat pernyataan melakukan kegiatan pelayanan gizi, makanan dan dietetik dan bukti fisik (contoh Formulir III)
  2. Surat pernyataan melakukan kegiatan pengembangan profesi dan bukti fisik (contoh formulir IV)
  3. Surat pernyataan melakukan kegiatan penunjang dan bukti fisik (lamp V)
  4. Salinan atau Foto copy ijazah/STTPL dan atau keterangan atau pengahargaan yang pernah diterima yang disahkan (legalisir) oleh pejabat yang berwenang.

Beberapa tahapan persiapan untuk mengajukan angka kredit Nutrisionis beserta dokumen pendukungnya, antara lain:

  • Buku Catatan Pribadi
  • Laporan Kegiatan Harian
  • Rekapitulasi kegiatan bulanan
  • Surat Pernyataan 
  • Kegiatan pelananan gizi, makanan, dan dietetik
  • Kegiatan Pengembangan profesi
  • Kegiatan Penunjang Yanzi
  • DUPAK atau Daftar Usul Penetapan Angka Kredit, merupakan formulir yang berisi keterangan perorangan bidan dan butir kegiatan yang dinilai dan harus diisi oleh Nutrisionis dalam rangka penetapan angka kredit.
  • PAK yang merupakan hasil perhitungan sendiri atau tim.

Periode Waktu Usul Penetapan Angka Kredit 
Untuk keperluan kenaikan pangkat, maka usul penetapan angka kredit Nutrisionis dilakukan  selambat lambatnya 3 bulan sebelum periode kenaikan pangkat, dengan ketentuan sebagai berikut :

  1. Untuk kenaikan pangkat periode Januarai, angka kredit ditetapkan selambat lambatnya pada bulan Oktober tahun sebelumnya dengan angka kredit ditetapkan selambat-lambatnya pada bulan Januari tahun yang bersangkutan.
  2. Untuk kenaikan pangkat periode Juli, angka kredit ditetapkan selambat lambatnya pada bulan April pada tahun yang bersangkutan. 
  3. Untuk kenaikan pangkat periode Oktober, angka kredit ditetapkan selambat lambatnya pada bulan Juli pada tahun yang bersangkutan.

Selanjutnya usul penetapan angka kredit Nutrisionis tersebut, sebelum ditetapkan oleh pejabat yang berwenang, dilakukan verifikasi oleh Tim Penilai Angka Kredit Nutrisionis.


Saturday, November 24, 2012

Detail Unsur Kegiatan Jabfung Perawat

Unsur Penilaian Angka Kredit Jabfung Perawat

Perawat termasuk dalam rumpun kesehatan berkedudukan sebagai pelaksana teknis fungsional pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan.  Sedangkan tugas pokok perawat antara lain memberikan pelayanan berupa asuhan keperawatan atau kesehatan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian dibidang keperawatan atau kesehatan.

Sesuai Surat Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor 94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya, rincian kegiatan perawat sebagai berikut :

A.    RINCIAN KEGIATAN PERAWAT TERAMPIL, SEBAGAI BERIKUT:

Perawat Pelaksana Pemula, yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian data keperawatan dasar pada individu
  2. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori I
  3. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori II
  4. Melaksanakan penyuluhan pada individu
  5. Melaksanakan pertolongan persalinan normal tanpa episiotomy
  6. Melaksanakan tuga instrumentator/ asisteren pada operasi kecil
  7. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Rumah Sakit
  8. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Rumah Sakit
  9. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Rumah Sakit
  10. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Puskesmas Perawatan
  11. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Puskesmas Perawatan
  12. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Puskesmas Perawatan
  13. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  14. Melaksanakan tugas di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  15. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit transportasi
  16. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus/ sepi pasien
  17. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  18. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC, Olahraga, dan lain-lain)
  19. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  20. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  21. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi Ketua Tim
  22. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota Tim

Perawat Pelaksana, yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian keperawatan pada keluarga
  2. Melaksanakan analisis data sederhana untuk merumuskan diagnose keperawatan pada individu
  3. Merencanakan tindakan keperawatan sederhana pada individu
  4. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori I
  5. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori II
  6. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori III
  7. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori IV
  8. Melaksanakan tindakan kaperawatan kompleks ketegori I
  9. Melaksanakan penyuluhan kepada individu
  10. Melaksanakan pelatihan kader
  11. Membimbing kader di lapangan
  12. Melaksanakan pertolongan persalinan normal dengan episiotomy
  13. Melaksanakan tugas anestesi operasi kecil
  14. Melaksanakan tuga instrumentator/ asisteren pada operasi sedang
  15. Melaksanakan tugas limpah
  16. Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada individu
  17. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan di Rumah Sakit sebagai Ketua Tim Perawatan
  18. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan di Puskesmas Pembantu sebagai penanggung jawab
  19. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan di Puskesmas sebagai penanggung jawab tugas jaga sore/ malam
  20. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Rumah Sakit
  21. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Rumah Sakit
  22. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Rumah Sakit
  23. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Puskesmas Perawatan
  24. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Puskesmas Perawatan
  25. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Puskesmas Perawatan
  26. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  27. Melaksanakan tugas khusus di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  28. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  29. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus/ sepi pasien
  30. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  31. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC, Olahraga, dan lain-lain)
  32. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  33. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  34. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi Ketua Tim
  35. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota Tim

Perawat Pelaksana Lanjutan, yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian data keperawatan pada kelompok
  2. Melaksanakan analisis data sederhana untuk merumuskan diagnose keperawatan pada keluarga
  3. Merencanakan tindakan keperawatan sederhana pada keluarga
  4. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori I
  5. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori II
  6. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori III
  7. Melaksanakan tindakan kaperawatan dasar ketegori IV
  8. Melaksanakan tindakan kaperawatan kompleks ketegori I
  9. Melaksanakan tindakan kaperawatan kompleks ketegori II
  10. Menyusun program penyuluhan dengan metoda sederhana
  11. Melaksanakan penyuluhan kesehatan pada kelompok
  12. Menyusun rancangan pelatihan untuk kader
  13. Melaksanakan pertolongan persalinan dengan pertolongan khusus
  14. Melaksanakan tugas anestesi operasi sedang
  15. Melaksanakan tugas instrumentator/ asisteren pada operasi besar
  16. Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada keluarga
  17. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan sederhana pada individu
  18. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai pengawas keliling di Rumah Sakit
  19. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai Kepala Ruangan di Rumah Sakit
  20. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai Penanggung Jawab di Puskesmas
  21. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai koordinator Puskesmas/ KIA/ Ruang Rawat Inap di Puskesmas
  22. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Rumah Sakit
  23. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Rumah Sakit
  24. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Rumah Sakit
  25. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Puskesmas Perawatan
  26. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Puskesmas Perawatan
  27. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Puskesmas Perawatan
  28. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  29. Melaksanakan tugas khusus di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  30. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  31. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus/ sepi pasien
  32. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  33. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC, Olahraga, dan lain-lain)
  34. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  35. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  36. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi Ketua Tim
  37. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota Tim

Perawat Penyelia, yaitu
  1. Melaksanakan pengkajian data keperawatan pada masyarakat
  2. Menerima konsultasi data pengkajian keperawatan dasar
  3. Melaksanakan analisis data sederhana untuk merumuskan diagnose keperawatan pada kelompok
  4. Melaksanakan analisis data sederhana untuk merumuskan diagnose keperawatan pada masyarakat
  5. Merencanakan tindakan keperawatan sederhana  pada kelompok
  6. Merencanakan tindakan keperawatan sederhana pada masyarakat
  7. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori I
  8. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori II
  9. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori III
  10. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori IV
  11. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori I
  12. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori II
  13. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori III
  14. Melaksanakan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat
  15. Menerima konsultasi penyusunan program pelatihan kader
  16. Melaksanakan tugas anastesi operasi besar
  17. Melaksanakan tugas anastesi operasi khusus
  18. Melaksanakan tugas instrumentator/ asisteren pada operasi khusus
  19. Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada kelompok
  20. Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada masyarakat
  21. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan sederhana pada keluarga
  22. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai pengawas di Rumah Sakit
  23. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Rumah Sakit
  24. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Rumah Sakit
  25. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Rumah Sakit
  26. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Puskesmas Perawatan
  27. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Puskesmas Perawatan
  28. Melaksanakan tugas jaga “on call” di Puskesmas Perawatan
  29. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  30. Melaksanakan tugas di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  31. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  32. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus / sepi pasien
  33. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  34. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC,Olahraga dll)
  35. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  36. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  37. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi ketua tim
  38. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota tim

B.    RINCIAN KEGIATAN PERAWAT AHLI, SEBAGAI BERIKUT:

Perawat  Pertama Yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian lanjutan keperawatan pada  individu
  2. Melaksanakan analisis kompleks untuk merumuskan diagnosa untuk merumuskan diagnosa keperawatan pada individu
  3. Merencanakan tindakan keperawatan kompleks pada individu
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori II
  5. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori III
  6. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori IV
  7. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori I
  8. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori II
  9. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori III
  10. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori IV
  11. Menyusun rancangan pelatihan untuk kader
  12. Menerima konsultasi untuk persalinan
  13. Menerima konsultasi pelaksanaan tugas anastesi
  14. Melaksanakan evaluasi keperawatan sederhana pada masyarakat
  15. Melakukan evaluasi keperawatan kompleks pada individu
  16. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan sederhana pada  kelompok
  17. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan sederhana pada masyarakat
  18. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai Ketua Tim Perawatan di Rumah Sakit
  19. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai penanggung jawab  Puskesmas
  20. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai coordinator Puskesmas/KIA/ Ruang Rawat Inap Puskesmas
  21. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Rumah Sakit
  22. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Rumah Sakit
  23. Melaksanakan tugas siaga “on call” di Rumah Sakit
  24. Melaksanakan tugas jaga sore dan siaga di Puskesmas Perawatan
  25. Melaksanakan tugas jaga malam dan siaga di Puskesmas Perawatan
  26. Melaksanakan tugas jaga “on call” di Puskesmas Perawatan
  27. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  28. Melaksanakan tugas di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  29. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  30. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus / sepi pasien
  31. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  32. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC,Olahraga dan lain-lain)
  33. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  34. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  35. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi ketua tim
  36. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota tim

Perawat Muda, Yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian lanjutan keperawatan pada keluarga
  2. Melaksanakan analisis  data kompleks untuk merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga
  3. Menerima konsultasi analisis data sederhana untuk merumuskan diagnosa keperawatan
  4. Merencanakan tindakan keperawatan kompleks pada keluaraga
  5. Menerima konsultasi penyusunan rencana tindakan keperawatan sederhana
  6. Menerima konsultasi penyusunan rencana tindakan keperawatan kompleks
  7. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori III
  8. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori IV
  9. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori I
  10. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori II
  11. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori III
  12. Melaksanakan tindakan keperawatan kompleks kategori IV
  13. Menerima konsultasi tindakan keperawatan  dasar
  14. Menyusun program penyuluhan dengan metode kompleks
  15. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat
  16. Menerima konsultasi penyusunan program pelatihan kader
  17. Melaksanakan evaluasi keperawatan kompleks pada keluarga
  18. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan kompleks pada individu
  19. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan kompleks pada keluarga
  20. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai pengawas di Rumah Sakit
  21. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai pengawas keliling di Rumah Sakit
  22. Melaksanakan pengelolaan pelayanan keperawatan sebagai Kepala Ruangan di Rumah Sakit
  23. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  24. Melaksanakan tugas di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  25. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  26. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus / sepi pasien
  27. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  28. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  29. Melaksanakan tugas penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi Ketua Tim
  30. Melaksanakan tugas penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi Ketua Tim

Perawat Madya, Yaitu:
  1. Melaksanakan pengkajian lanjutan keperawatan pada kelompok
  2. Melaksanakan pengkajian lanjutan keperawatan pada masyarakat
  3. Menerima konsultasi pengkajian lanjutan keperawatan
  4. Melaksanakan analisis data kompleks  untuk merumuskan diagnose keperawatan pada kelompok
  5. Melaksanakan analisis data kompleks  untuk merumuskan diagnose keperawatan pada masyarakat
  6. Menerima konsultasi analisa data kompleks untuk merumuskan diagnose keperawatan
  7. Merencanakan tindakan keperawatan kompleks pada kelompok
  8. Merencanakan tindakan keperawatan kompleks pada masyarakat
  9. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori II
  10. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori III
  11. Melaksanakan tindakan keperawatan dasar kategori IV
  12. Menerima konsultasi tindakan keperawatan kompleks
  13. Melaksanakan evaluasi keperawatan  kompleks pada kelompok
  14. Melaksanakan evaluasi keperawatan  kompleks pada masyarakat
  15. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan kompleks pada kelompok
  16. Menerima konsultasi evaluasi keperawatan kompleks pada masyarakat
  17. Melaksanakan tugas khusus di daerah terpencil
  18. Melaksanakan tugas di unit pelayanan kesehatan yang mempunyai resiko tinggi
  19. Melaksanakan tugas kunjungan pembinaan keluarga/ kelompok/ masyarakat di daerah sulit
  20. Melaksanakan tugas siaga di sarana kesehatan khusus / sepi pasien
  21. Melaksanakan kegiatan penanggulangan bencana alam/ wabah di lapangan
  22. Membantu dalam kegiatan kesehatan (PMI, Yayasan Kanker, YPAC,Olahraga dan lain-lain)
  23. Melaksanakan tugas mengamati penyakit/ wabah di lapangan
  24. Melaksanakan tugas supervisi bidang kesehatan
  25. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi ketua tim
  26. Melaksanakan penanggulangan penyakit/ wabah dengan menjadi anggota tim